RSS

Kacamata Kesederhanaan..

Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup. (HR. Bukhari Muslim)

Kacamata ini tidak bisa dibeli dan memang tidak dijual. Namun dengan kacamata ini pandangan anda mengenai dunia akan semakin indah dan terbuka. Tidak perlu mengeluarkan uang bila ingin memilikinya yang anda perlukan hanya keinginan kuat untuk belajar sebuah ilmu untuk kemudian ‘siap’ untuk berubah.

Kesederhanaan dalam definisi materi tentu saja tidak boros. Adil, membelanjakan rizki secara proporsional bahkan menekan seefisien mungkin. Punya banyak daya beli namun tidak membeli banyak sesuatu yang tak perlu. Kesederhanaan yang ini benar-benar mengikuti aturan Islam seperti sesuai dengan Firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 26-27:

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [QS.Al Isra (17):26-27]

Namun percayalah kacamata kesederhanaan membawa kita lebih dari itu. Kacamata kesederhanaan senantiasa membawa sifat syukur. Memandang terlebih dahulu apa yang sudah terasakan baru bisa melihat kelebihan.

Bukankah kita sudah bosan menjadi orang yang bosan dengan handphone yang dirasa kuno? Atau lelah dengan motor yang selalu mogok? Atau pasrah dengan otak yang tak sepintar teman sebelah?

Tak ada cara lain selain menjawab semua pertanyaan tersebut selain memandang hidup penuh kesederhanaan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah yang akan membuat seseorang tidak memandang remeh nikmat Allah karena dia selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Ketika dia melihat tetangganya memiliki rumah mewah dalam hatinya mungkin terbetik, “Rumahku masih kalah dari rumah tetanggaku itu.”

Namun ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia berkata, “Ternyata rumah si fulan dibanding dengan rumahku, masih lebih bagus rumahku.” Dengan dia memandang orang di bawahnya, dia tidak akan menganggap remeh nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri nikmat tersebut karena dia melihat masih banyak orang yang tertinggal jauh darinya.

Berbeda dengan orang yang satu ini. Ketika dia melihat saudaranya memiliki Blackberry, dia merasa ponselnya masih sangat tertinggal jauh dari temannya tersebut.

Akhirnya yang ada pada dirinya adalah kurang mensyukuri nikmat, menganggap bahwa nikmat tersebut masih sedikit, bahkan selalu ada hasad (dengki) yang berakibat dia akan memusuhi dan membenci temannya tadi. Padahal masih banyak orang di bawah dirinya yang memiliki ponsel dengan kualitas yang jauh lebih rendah.

Inilah cara pandang yang keliru. Namun inilah yang banyak menimpa kebanyakan orang saat ini.

Bersyukur dulu bahwa handphone yang sama telah membawa kita pada banyak silaturahmi yang terputus jarak dan waktu. Lalu berpikir seandainya memaksakan diri membeli yang lebih canggih mampukah/butuhkah? kita menggunakannya sesuai manfaatnya? Sungguh tak bisa dipercaya mendengar bahwa orang yang selalu menciptakan handphone tercanggih adalah orang yang menggunakan handphone kuno dan hanya berfungsi untuk menelpon dan SMS saja.

Motor mogok bukan juga alasan untuk lelah bila kita berpikir bahwa sebelumnya kita pasti pernah menggunakan transportasi umum yang setiap pagi berkejaran dengan waktu serta asap knalpot. Bahkan seandainya mau duduk sebentar dengan kakek nenek kita pastilah kita malu bahwa mereka pernah melintasi gunung hanya demi sekolah atau mencari pekerjaan.

Lebih disesali bila memang kita pasrah pada kondisi kita tak mau belajar. Kepintaran itu bukan karunia melainkan usaha. Software yang ada di otak untuk menyerap informasi sama seperti otak semua orang, bedanya orang pintar memaksimalkan semua indra-nya untuk mencari ilmu baru.

Sederhanakan cara berfikir kita bahwa tak selalu orang yang lebih pintar adalah orang yang berani nyogok dosen atau les di tempat-tepat mahal. Siapa tahu mereka menyedikitkan waktu tidurnya untuk belajar. Dengan memandang demikian bukan tidak mungkin kita ikut termotivasi untuk menirunya. Berkat ke-positifan kita berpikir dunia akan lebih indah.

Semakin kita pandai memandang betapa dunia ini memberi kita lebih dari yang kita harapkan maka dapat dikatakan anda sudah pandai mengatur diri penuh kesederhanaan. Hanya persoalan waktu kita akan semakin menyadari bahwa kesederhanaan membawa segala kemewahan.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” [QS.Ibrahim (14):7]

Mudah-mudahan bermanfaat untuk semua. Amin.

For @Virouz007, thanks atas sharing-nya ya^^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 7, 2011 in A page of a word

 

My Precious Mom…

Assalamualaikum Mama…

Bagaimana kabar Mama? Apa sehat-sehat saja? Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya hanyalah pengulangan dari pertanyaan yg Mama selalu tanyakan padaku…hampir tiap hari. Mungkin buatku yg selalu mendengarnya untuk kesekian kalinya, pertanyaan tersebut terdengar biasa…tapi mungkin buat Mama, ini adalah pertanyaan yg sangat penting…karena kalau tidak tahu, Mama tidak bisa tenang. Mungkin itu-lah Mama…Mama-ku yg selalu menanyai kabarku, menanyai kabar anak-anaknya…entah mau di benua manapun…Mama tak peduli…karena Mama ingin tahu…berita buah hati Mama…yg telah Mama buaikan…Mama besarkan, sampai detik ini……Oh Mama…

Aku tak terlalu ingat masa bayi-ku…mungkin hanya beberapa peristiwa ‘penting’ yg sempat terekam di otak-ku, dan terkadang terputar kembali disaat aku bermimpi dalam tidurku.

Suatu waktu aku mengalami De Ja Vu, seperti orang yg merasa sangat kedinginan…dan kulihat ada tangan-tangan besar yg sedang mencoba memasangkan sweater tebal ditubuhku…lalu memelukku hangat….

Suatu waktu, aku merasa seperti terjatuh dari tempat yg tinggi…rasanya kepala ini bergetar keras, dan aku bingung ingin mengatakan bahwa kepala dan badanku sakit…yg keluar hanya suara tangisan tanpa nada dan arti…mencoba memberitahu bahwa aku jatuh…lalu terdengar derap langkah tergesa-gesa dan kembali tangan-tangan besar itu meraihku yg tak berdaya…memelukku erat sambil mengatakan sesuatu yg membuatku merasa aman…saat itu mungkin aku tidak tahu apa yg diucapkan Mama, yang kutahu hanyalah…aku merasa sakit disekujur tubuhku mulai menghilang…lalu aku pun tertidur……

Mama-ku sayang…

Mama selalu memberiku semangat disaat aku mulai bisa merangkak…membimbingku disaat aku mulai belajar berjalan, menjelaskan berbagai macam benda dan pengalaman baru padaku disaat aku tidak mengerti hal tersebut untuk apa, merapikan barang-barang yg kulempar dan kuserakkan…memasakkan makanan yg kusuka, menemaniku dan membuatkan secangkir minuman hangat disaat aku belajar dan mengerjakan PR, dan selalu menyempatkan diri bersama Papa menceritakan dongeng sebelum tidur…untuk kami……. Walau terkadang ada beberapa cerita yg aku sadari terkadang terulang…tapi mendengarkan suara Papa yg bersemangat…dan suara Mama yg lembut…membuat hati begitu tenang…dan akhirnya tertidur…Padahal setelah itu, jauh setelah malam semakin larut…aku terbangun sebentar…dan masih melihat Papa dan Mama…masih berkutat dengan buku-buku…padahal hari itu kalian sangat lelah…….

Aku ingat…Mama punya sebuah buku, dan aku selalu penasaran dengan isi buku itu. Buku itu adalah sebuah buku yg berisi kisah-kisah para raja dan negara-negara mereka. Kisah-kisah heroic yg saat ini mungkin terdengar absurd…tetapi saat itu…kisah-kisah tersebut begitu membuatku terpana. Yg membuatku begitu bersemangat untuk belajar membaca. Mama sering membacakan buku itu jika ada waktu luang…tapi terkadang aku lihat Mama terdiam…mungkin sedang meresapi cerita…saat itu aku tak mengerti, tapi sekarang aku tahu bahwa Mama…mungkin sedang rindu dengan tanah yg ada dalam kisah itu. Ya…itulah pertama kalinya aku mengenal “Nusantara”… yg sering kudengar dari bibir Mama…yg merupakan tanah kelahiran dan kebanggaan Mama…tempat dimana ada Papin dan Nenek, Paman dan Tante, para sepupu…yg hanya kukenal lewat belajar di sekolah. Mama-lah yg selalu menceritakan…bahwa keluarga tidak hanya terdiri dari Papa dan Mama…tapi juga mereka…yg saat itu terdengar begitu jauh di sana…di tanah yg bernama “Nusantara”…negerinya para Raja dan Ksatria……….

Mama-ku sayang…

Mama selalu memberiku semangat…disaat gembira dan sedihku…disaat perih dan sakitku…dan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yg disayangi-Nya. Selalu ada pelajaran yg ingin disampaikan Tuhan pada hamba-hamba yg disayangi-Nya. “Jadi-lah anak yg baek kalau ingin disayang Allah, Papa, dan Mama,” begitu kata Mama. Ya…Mama mengajariku banyak hal…yg dulu mungkin tak terjangkau oleh pemahamanku…tapi sekarang mulai kusadari… Mama telah mengajarkan padaku…mungkin sejak diriku masih dalam hangatnya rahim Mama…bahwa ilmu itu sangat berarti…jika kita ingin mendapatkan kehangatan Dunia…dan juga keindahan di Akhirat. Karena Tuhan hanya akan memberi petunjuk…pada hamba-hamba-Nya yg mau belajar…dan mengerti…bukan pada orang-orang yg sengaja…membutakan mata, menulikan telinga, dan menutup hatinya…akan tanda-tanda kebesaran dari Tuhan, yg begitu banyak terserak tapi hanya akan terlihat bagi orang-orang yg mau belajar dan bersyukur………

Mama-ku sayang…

Terkadang mimpi buruk itu datang…tatkala disaat aku lengah…tapi juga mungkin itu suatu peringatan dari Tuhan…bahwa Mama begitu sangat berharga…bagiku….karena jika tidak…mungkin aku akan mengalami pengalaman yg lebih parah lagi….dan aku tahu bahwa aku tak kan sanggup menghadapinya…jika tidak karena Mama……………

Aku terkadang teringat malam itu… waktu aku begitu kecil…malam disaat hujan mengguyur begitu deras…begitu membutakan pandangan…dari apa yg terlihat dari depan kaca mobil. Yg aku ingat, aku mengantuk dan tertidur dipangkuan Mama…lalu semua terjadi begitu cepat…Mama memeluk menutupiku sampai aku tak bisa bernafas…aku terbangun…suara benda berat beradu…menghantam bagian depan dan sebagian pintu mobil…lalu sesaat kemudian semuanya terdiam…yg terasa hanyalah air hujan yg merembes masuk dari celah yg remuk…sekujur badanku sakit…aku melihat Papa…Mama…Kakak…tak ada satu pun yg bergerak…begitu banyak bau aneh dimana-mana…aku memegang Mama dan berbisik, “Ma……..”. Mama yg menutupiku dengan tubuhnya hanya terdiam tak bergerak…aku tak mengerti…bingung…takut…begitu banyak pecahan kaca dimana-mana…tiba-tiba kulihat ada sesuatu yg berwarna gelap menetes di tanganku…ada banyak…kukira tanganku terluka…karena aku seperti tidak merasakan keberadaan tanganku…tapi sesuatu itu ternyata merembes dari baju Mama…Mama-ku yg memelukku…aku merintih tapi tak ada yg mendengar…lalu semuanya menjadi gelap……………

Mama-ku sayang…

Yg kuingat, malam itu tiba-tiba aku terbangun di sebuah ‘dunia lain’…dengan bau pembersih lantai yg begitu kuat…sayup-sayup kudengar ada suara yg mencoba memanggilku…aku kenal suara itu…suara Mama yg sedang mencariku…mencoba bertanya pada seseorang yg tak kumengerti kenapa memakai baju putih-putih dan hijau-hijau… Aku melihat ke sebelahku… ternyata ada kakakku… yg sedang ditangani oleh mereka… Kenapa dia tertidur?? Aku teringat Papa…Papa dimana?? Kugerakkan kepala sedikit…aduuuhhh…pandanganku mulai berputar…Kulihat bayangan samar Mama semakin mendekat…suaranya terdengar sudah tidak panic seperti yg tadi kudengar…tapi terdengar begitu lemah…ahh, bau Mama aneh…dan begitu banyak perban dimana-mana…aku mencoba mengangkat tanganku…tapi tak bisa bergerak, sesuatu yg berat dibebatkan padanya…sakiiiittt…aku merintih, mengadu pada Mama…aku begitu tak berdaya…kudengar mereka yg menangani kakak heran melihatku hanya cedera tulang dan sama sekali tak terluka…sedangkan kakak…….tapi aku tahu bahwa aku pasti tak kan bisa kuat menghadapi trauma yg lebih besar lagi jika tidak dilindungi dari depan oleh Mama-ku…Yaa..Mama-ku telah menggantikan aku…mendapatkan luka yg begitu banyak….aku tak tahan melihat Mama…aku merintih…menangis…aku tak ingat Mama mengatakan apa…tapi satu hal yg pasti adalah…aku merasa begitu tenang… begitu damai…karena sesakit dan setakberdayanya aku di ‘dunia lain’ saat itu… tapi aku pasti bisa menghadapinya…karena aku tahu… Mama ada disampingku…….

Ohh Mama-ku sayang…

Jika ingin kutuliskan semua kisah yg ingin kuutarakan dalam benakku…maka seribu buku pun tak kan cukup untuk menampungnya…karena Mama begitu unik bagiku, begitu special…begitu berharga… Tak kan cukup kata-kataku maupun apa yg kulakukan selama hidupku untuk dapat membalas segala keringat, pelukan, semangat, serta kasih sayang yg telah Mama tunjukkan dan berikan sejak aku berada di Dunia ini. Aku tidak ingin seperti orang-orang lain, yg hanya mengkhususkan Hari Ibu untuk mengatakan suatu yg special pada ibu mereka…dan aku tahu Mama tak kan pernah bosan mendengarkan ucapan “I Love You” dariku setiap hari. Dan bukan juga berarti bahwa aku begitu “childish”…aku hanya ingin mengutarakan perasaan hatiku bahwa Papa Mama begitu berharga………

Mom…….through this page, Evy just wanna say…. thank you very much for every moment, every token, every experience, every hug, every tears, and every single thing that you taught me ever since I was a ‘little Sofie’.  And I always want you to know that my First Love is only for you………………….

My Precious Mom (^______^)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 21, 2009 in A page of my day, Evy

 

Pengertian Cinta…

Hari menjelang sore…DIA mencoba meregangkan badan dan tangan-tangannya yang lelah seharian ini sembari melihat ke balik jendela. Dipandanginya bangunan sebelah…iya, bangunan sebelah yang semakin temaram saja. Jelas perkuliahan telah selesai sejak tadi. Hari ini berlalu seperti halnya biasa…dengan tugas-tugas yang seperti biasa…hilir-mudik seperti biasa…dengan orang-orang yang itu-itu juga seperti biasa…dan DIA kembali berada di ruangan ini, sebuah ‘gua’ kecil yang digunakannya untuk berkonsentrasi seperti biasa…menekuni waktunya dengan membaca, menganalisis, dan menulis, seperti biasa…benar-benar rutinitas yang seperti biasa…mungkin orang akan berkata, “…betapa membosankannya kehidupanmu ya…”. Walau mereka berkata begitu, tapi tidak baginya…karena DIA menyukai pekerjaannya…tugas yang diamanahkan padanya. Walau terkadang lelah luar biasa, tapi DIA senang dan sangat bersyukur…karena mendapat banyak sekali  pelajaran dari Allah yang telah menyayanginya dengan memberikan begitu banyak pengalaman…Ohh, betapa indahnya dunia ini jika hati ini selalu bisa ikhlas bersyukur pada-NYA…

Siang tadi, DIA kembali lagi dari luar…mengemban tugas seperti biasa…hmmmm. Tapi hari ini ada sesuatu yang terselip dibenaknya. Sebenarnya tidak baru muncul hari ini, tapi sudah ‘terselip’ sejak berhari-hari yang lalu…sejak DIA baru menyadari…akan arti sesuatu yang sangat ‘berharga’…yang telah lama tersimpan…tapi tak pernah tersentuh…atau mau disentuh dan diganggu olehnya…karena DIA memang sengaja menjaganya…khusus untuk seseorang…yang akan menjaga, menyayangi, dan menuntunnya kelak…setulus hati…di dunia dan di akherat. Sesuatu yang ‘berharga’ itu mulai bergeming, terusik oleh kejadian-kejadian di luar sana…”apakah yang sedang terjadi di luar sana…yang membuatku tersadar dan terbangun?”. bisiknya dalam mimpi…’dia’ mulai sedikit membuka matanya…sedikit ‘silau’, tidak mengerti, dan bingung…karena ‘dia’ masih sangat muda, tidak tahu apa-apa…walau belum sepenuhnya terbangun, tapi ‘dia’ sudah mulai tersadar dari tidurnya yang begitu panjang…entah sejak kapan  ‘dia’ tertidur…karena ‘dia’ sendiri tidak bisa ingat…kapan ‘dia’ diciptakan…dan ditempatkan dalam ‘penjagaan’ tubuh DIA…

Sekembalinya ke ‘gua’ kecil tempat ‘tidur’nya sehari-hari…DIA mulai termenung lagi…memikirkan sesuatu yang tidak pernah mau difikirkannya sebelumnya…yang coba disembunyikannya…tapi sekarang tak berdaya dihalanginya lagi…ya, begitu banyak yang terjadi, yang menggodanya, ‘menyerangnya’…hingga membuatnya begitu rapuh dan memerlukan bantuan untuk menyangganya untuk tetap berdiri kokoh…Oh TUHAN, DIA benar-benar memohon kekuatan dan kasih sayang-MU untuk tetap bertahan…dan mempertahankan ‘dia’…menjaganya…yang sekarang mulai bergeming, tersadar…akan ‘indahnya’ dunia yang fana ini…

“Ahh, bagaimana cara menganalisis model data seperti ini ya”, desah DIA pelan memandangi berkas yang dibawanya sejak tadi. Ekonometrik…ya Ekonometrik. DIA melirik jam di dinding…hmm, saatnya istirahat sebentar…mengistirahatkan badan, otak, dan hati…ngantuukk…tiba-tiba seorang Prof. menyela masuk ke ruangan…membuat DIA kaget dan terbangun dari rasa kantuknya…sang Prof. kaget juga tapi lalu berlalu keluar kembali membawa berkas yang begitu banyak…huff, DIA benar-benar kaget…kenapa apa yang sedang terfikirkan olehnya…terkadang langsung terpantulkan oleh alam…apakah itu berarti TUHAN juga mengetahui apa yang difikirkannya…dirasakannya…yang coba disembunyikannya? DIA sudah tahu bahwa TUHAN pasti tahu…tapi mengetahui bahwa TUHAN tahu membuatnya tersipu malu… Malu karena telah membuatnya sering termenung…Malu karena telah membuatnya sering teringat hal yang telah mengusik ‘dia’ dari mengingat TUHAN yang selalu ada disampingnya…”Ohh, apa yang telah kulakukan? Maafkan aku yaa Rabbi”, pintanya. Kembali ditatapnya pintu yang telah tertutup kembali. Jejak yang ditinggalkan oleh Prof. Ya…Prof. itu adalah gurunya…mengingatkannya akan pelajaran yang diperolehnya di kelas. Ha ha ha…DIA memang lamban mengerti…tapi DIA sangat menyukai kelas itu…dan tak habis fikir juga kenapa DIA diberikan nilai bagus oleh Prof. itu juga…padahal DIA merasa begitu biasa…Hmm… Walau pelajarannya sulit dan menegangkan, namun Prof. itu telah banyak sekali memberi pelajaran berharga…baik yang berkaitan di kelas…maupun pelajaran hidup…termasuk kasih sayang…dan cinta. Cinta??…hmmmm, DIA mulai meraba-raba…sebenarnya apa itu CINTA? Kenapa ‘dia’ ada? Pentingkah ‘dia’? Si ‘dia’ yang jauh di dalam sana berbisik pelan mengantuk…”aku ada…sadarkah kau aku ada?”. DIA tahu bahwa ‘dia’ ada…tapi DIA tidak mau mengganggu dan membangunkannya…sampai saatnya tiba ‘dia’ untuk bangun dan melihat ‘mentari pagi’ yang sebenarnya…kapankah itu tiba?? Hanya Allah yang tahu…dan DIA telah ‘dibisikkan’ oleh NYA bahwa saat itu akan tiba…saat dia tidak meminta dan menyadarinya…saat dia sedang bergelut ‘mempertahankan’ dirinya…TUHAN akan mengirimnya…sebagai pengobat hati…pelipur lara…ohh, DIA sangat senang…….jalan TUHAN memang indah…dan akan semakin indah saat tiba waktunya…

DIA kembali melirik jam…ahh, sudah jam 5 sore…DIA masih malas untuk pulang…masih banyak yang harus dikerjakan…tapi badannya sudah berteriak malas…Dipandangi Handphone yang tergeletak di samping meja…yang sengaja di-silent-nya sejak tadi. “Apa ya yang sedang dilakukan-nya-?”, fikirnya. DIA mulai berfikir, pentingkah untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan-nya-? Ahh, ada-ada saja…”Tapi aku ingin memikirkan-nya-..”, pinta sang otak. Sang hati mengangguk mengiyakan… Wah, tumben DIA berfikir sang otak dan sang hati yang dimilikinya sepakat untuk mengerjakan sesuatu…biasanya selalu saja ada yang lebih dimenangkan…hmmm. “Sebenarnya, apa yang sedang terjadi pada kalian?”…

Sang hati mulai gundah…DIA berfikir, sudah saatnya menenteramkannya…membelainya…agar tidak gelisah terus bertanya-tanya… DIA mulai membuka Tafsir Al Qur’an…membacanya…menghayatinya…ohh indahnya ayat-ayat ini…begitu menenteramkan kalbu…mengobati jiwa… Selesai membaca beberapa ayat, DIA kembali termenung lagi… “Yaa Rahim, hamba-MU ini masih tidak mengerti…hati ini selalu gelisah…tunjukkan-lah wahai Sang Maha Penyayang pengertian ‘dia’ yang mudah hamba fahami…sehingga hamba dapat menjaga dan mengatasi persoalan perasaan ini?”, doa-nya dalam hati. Ahh, pusing…”Kemana lagi akan kucari pemahaman ini?”, desahnya…

Sejenak diliriknya laptop yang masih menyala… DIA mulai berfikir, maukah TUHAN memberikan sedikit penerangan kali ini? DIA mulai membuka Al Qur’an Digital…menuliskan “ayat-ayat yang berkaitan dengan Cinta” pada kolom SEARCH. Sepersekian detik muncullah beberapa ayat. DIA membacanya…menelaahnya…ayat-ayat itu memang indah…baik isi, pelajaran yang disampaikan, maupun lafalnya. Hmmm….ayat-ayat Cinta…sejenak DIA tertawa…menertawakan dirinya sendiri…”…semuanya ada dalam Al Qur’an dan Hadist”, terngiang kata ayahanda pada DIA dulu. “Jika kau bingung, maka bukalah Al Qur’an…maka Allah akan membantumu memahami masalahmu…”, begitu kata ayahanda. “Yaa Rahim, maafkanlah hamba-MU ini yang terbutakan oleh dunia… Tuntunlah aku dalam pemahamanku akan hidup ini, yaa Rahim”, pintanya dalam hati. Kembali ditekuninya laptop, menghidupkan internet dan mulai mencari apakah ada artikel atau tulisan yang terkait dengan ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Beberapa tulisan memberikan pemahaman yang sangat bagus. Lalu kembali dia melakukan SEARCHING kembali. Hmm…ada satu tulisan yang menarik perhatiannya. “8 Pengertian Cinta Dalam Al Qur’an”. Hmm…sejenak dibaca dan ditelusurinya…

—————————————————————————————————————————

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu
mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an
katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta
sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai
dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang
dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti
kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi
orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka
berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka
bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti
perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian, berikut ini penjelasannya:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia
ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis
rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari
itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham ,
yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri,
yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata
rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana
psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia
akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut
dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada
yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang
lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf
ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir
kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak
tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an
menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah
menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus
hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan
Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja),
sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan
bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al
jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari
hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan
tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur
dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika
wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya
memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.
Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa
Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada
sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang
apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il
tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang
menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada
pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la
yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Salam Cinta,
calon_akhwat
http://forum.dudung.net/

————————————————————————————————————————–

Subhanallah…tulisan yang sederhana tapi cukup banyak memberikan pemahaman Cinta buat DIA. Ahhh, ternyata Cinta itu begitu indah…sungguh Allah telah menciptakan suatu perasaan yang begitu unik…suatu perasaan yang begitu sederhana namun kompleks, mudah difahami tapi terkadang sulit untuk diungkapkan, perasaan yang bisa membuat hati terkadang gelisah sedih tapi dilain waktu berbunga bahagia, mempunyai kemampuan sugesti yang begitu dahsyat…bisa melemahkan jiwa dan membawa pada dosa jika tidak mampu menjaganya tetap dijalur yang benar…tapi juga bisa memberikan kekuatan yang begitu besar…hatta pada orang yang sakit, ibu, orang tua, saudara, apalagi pada orang-orang yang saling mencintai…untuk rela berkorban demi orang atau mereka yang dicintainya. Sungguh benar kata suatu pepatah orang tua, “Cinta itu mempunyai kekuatan yang sangat indah, tapi juga sangat mengerikan jika ditempatkan dijalan yang salah… Maka hati-hatilah memahami dan menempatkan Cinta, karena Cinta yang ada di dunia ini tidak-lah kekal…kecuali bagi orang-orang yang melandaskan Cinta mereka pada TUHAN, Allah SWT.

Masya Allah…..Astaghfirullah Hal Adzim…DIA mengadukan hatinya dan ‘dia’ pada Allah. “Yaa Allah, semoga hamba selalu dalam tuntunan dan kasih sayang-MU dalam memahami arti dari CINTA yang masih samar ini, dan semoga Engkau selalu menjaga dan melindungi ‘orang’ yang nantinya mendampingi hamba agar terjaga dari segala intrik akan ke-CINTA-an pada dunia yang melewati batas, amin yaa Rabb…

Sayup-sayup azan Maghrib berkumandang…DIA membereskan peralatan yang ada di meja dan bersiap pulang…”Semoga Engkau selalu menjaga hati ini untuk-nya- yaa Allah”. DIA tersenyum malu…”apa yang sedang dilakukannya ya??”…kembali keinginan itu terngiang dalam hatinya……………………

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2009 in A page of my day, Evy

 

…Yang Tidak Akan Pernah Meninggalkan-Ku….. (1)

Pagi yang cerah….. hari ini aku dibangunkan oleh sebuah sms dari temanku yang menanyakan tentang data penelitian yang akan kami kumpulkan. Hmm..maaf ya wahai teman. Aku sedikit lemas sejak tadi malam sehingga aku tak mampu menjawab sms-mu. Mungkin bukan tidak mampu tapi lebih kepada tidak sadar apakah aku sudah menjawab sms tersebut atau tidak. Karena semuanya serasa seperti mimpi…. Rasa sakit yang beruntun masih menderaku sejak kemaren, dan biasanya jika hal ini terjadi, aku akan mencoba menanganinya sendiri.

Aku teringat kejadian kemaren…. Terkadang aku selalu merasa akan terjadi sesuatu denganku, biasanya badan ini akan memberi sinyal kuning agar aku mulai waspada. Alhamdulillah sekarang saat aku telah dewasa, aku sudah bisa mengatur jadwalku dan mengira-ngira apa yang bisa menjadi pemicu serangan sakit itu. Sehingga untuk hal-hal tertentu, aku sangat berhati-hati. Minggu ini, alhamdulillah aku tidak terlalu capek…. akan tetapi Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkanku pada-Nya…. ya Tuhan selalu punya cara yang unik sehingga aku selalu ‘mengalaminya’ dengan perasaan justru bersyukur pada-Nya.

Aku memang orang yang jika bekerja atau sedang fokus pada sesuatu maka akan mencoba melakukannya dengan semaksimal mungkin. Memang aku tahu bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna, tapi aku mencoba sedaya upayaku untuk memberikan hasil kerja semaksimal mungkin yang bisa kuberikan. Dalam hal ini terkadang aku mendapat teguran dari ‘Yang Maha Sempurna’ bahwa aku hanyalah seorang manusia. Manusia memang boleh berusaha sekuat tenaga tapi ia juga harus mengingat bahwa Tuhan-lah yang juga menilai dan menentukan takdirnya. Terkadang Tuhan ingin mengingatkan bahwa di segala urusan duniawi ini masih ada Dia yang terkadang tidak terlihat oleh kita akibat dari kesibukan kita sendiri. Biasanya, pada saat aku sedang bersemangat bekerja yang berkaitan dengan hal duniawi, Tuhan selalu akan punya cara untuk ‘mengerem’ semangatku agar jangan sampai kebablasan. Hal-hal tersebut begitu beragam sampai akhirnya aku menemukan suatu pola yang rutin yang Tuhan coba sampaikan padaku. Ya… Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Jika ada suatu perumpamaan yang mengatakan bahwa Tuhan itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi leher kita sendiri…maka itu benar adanya. Jika engkau selalu melatih hati dan diri ini untuk selalu mengingat pada-Nya disetiap kegiatanmu, maka engkau akan merasakan kehadiran-Nya. Hal itulah yang akan membuat kita tidak akan berani berbuat dosa dan maksiat serta hal-hal lain yang dilarang-Nya karena kita tahu bahwa Dia ada dan memperhatikan kita. Hal itu jugalah yang memberikan semacam kekuatan berupa keberanian dalam menghadapi apapun bahkan ketakutan kita yang paling besar sekalipun, karena kita tahu bahwa Tuhan selalu bersama kita. Ketakutan dan kepedihan sebenarnya adalah perasaan yang kita ciptakan sendiri, dan sesungguhnya ketakutan yang sebenarnya hanyalah pada Allah. Allah menciptakan perasaan takut, pedih, sedih, gembira, marah, sakit, bahkan perasaan cinta dalam diri kita hanyalah dengan tujuan agar kita lebih bisa memahami dan memaknai hidup ini dengan lebih indah, dan juga sekaligus menjadi rambu-rambu bagi kita untuk tetap kembali bersyukur pada-Nya yang telah mengajari kita dengan berbagai macam nikmat dan pelajaran yang diperoleh akibat dari hasil perasaan tersebut.

Dalam beberapa minggu ini aku sangat bahagia dengan berbagai macam pelajaran yang telah Tuhan berikan padaku melalui perasaan-perasaan tersebut. Saat aku takut, Tuhan mengajariku untuk mempercayai-Nya dan mempercayai diriku sendiri. Saat aku sedih, Tuhan memberikan keceriaan dari keluarga, teman-teman, maupun lingkunganku. Saat aku bahagia, Tuhan selalu berada ‘disampingku’ sehingga aku merasa begitu bersyukur. Saat aku marah, kesepian, mulai mengerti artinya cinta dan mulai tidak bisa mengendalikan emosiku, Tuhan menyarankan hatiku untuk berwudhu dan sholat serta membaca Al-Qur’an. Dan pada saat hal duniawi mulai mengikis ingatan dan perhatianku pada-Nya, Tuhan tetap berada ditempat-Nya. Ya……. Tuhan tidak pernah meninggalkanku walau bagaimanapun keadaanku maupun perasaanku.

Kemaren Tuhan kembali mengirimkan rasa sakit padaku. Rasa kali ini tidak seperti biasa karena ada rasa-rasa lain yang juga ikut menemaninya. Rasa kesepian, rasa kangen, rasa cinta, rasa marah, rasa bahagia, sekaligus rasa sedih berkolaborasi mengisi hatiku. Campuran begitu banyak perasaan ini begitu baru bagiku karena biasanya aku hanya mengalami satu atau dua perasaan dalam sekali waktu. Semakin kacaunya perasaan ini membuat otakku semakin gila bekerja mengalihkan pikiran dengan membaca dan mengerjakan laporan, sehingga pada akhirnya Tuhan meminta tubuh ini untuk ‘bereaksi’. Ya… otak tidak pernah mau peduli dengan badan, kondisi hati juga terkadang mengabaikan badan, yang notabene adalah wadah yang sudah bersusah payah menampung mereka. Tapi badan tetap bersabar untuk mendukung setiap gerak dan langkah yang ingin dicapai oleh masing-masing anggotanya. Sesuatu hal yang melewati keterbatasan kita pasti akan mendapat perhatian dari Tuhan dan Tuhan akan menegurnya. Akhirnya aku kembali diberikan rasa sakit…. rasa sakit yang begitu perih karena rasa sakit itu membuatku terdiam diranjang tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berfikir merenungkan rasa sakit dan perasaan-perasaan yang semula ingin ‘kubunuh’ dengan mengalihkannya pada pekerjaan.

Disaat aku terkapar sendirian, aku mulai berfikir apakah Tuhan ingin memberikan pelajaran-Nya lagi. Aku kembali merunut kegiatanku dan tidak menemukan suatu kesalahan yang kira-kira bisa membuat Tuhan menegurku.

(…Bersambung…)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 25, 2009 in A page of my day, Evy

 

The Little Elder Tree Mother – Hans Christian Andersen (1845)

Oak tree 4There was once a little boy who had caught cold; he had gone out and got wet feet. Nobody had the least idea how it had happened; the weather was quite dry. His mother undressed him, put him to bed, and ordered the teapot to be brought in, that she might make him a good cup of tea from the elder-tree blossoms, which is so warming. At the same time, the kind-hearted old man who lived by himself in the upper storey of the house came in; he led a lonely life, for he had no wife and children; but he loved the children of others very much, and he could tell so many fairy tales and stories, that it was a pleasure to hear him. “Now, drink your tea,” said the mother; “perhaps you will hear a story.” “Yes, if I only knew a fresh one,” said the old man, and nodded smilingly. “But how did the little fellow get his wet feet?” he then asked. “That,” replied the mother, “nobody can understand.” “Will you tell me a story?” asked the boy. “Yes, if you can tell me as nearly as possible how deep is the gutter in the little street where you go to school.” “Just half as high as my top-boots,” replied the boy; “but then I must stand in the deepest holes.” “There, now we know where you got your wet feet,” said the old man. “I ought to tell you a story, but the worst of it is, I do not know any more.” “You can make one up,” said the little boy. “Mother says you can tell a fairy tale about anything you look at or touch.” “That is all very well, but such tales or stories are worth nothing! No, the right ones come by themselves and knock at my forehead saying: ‘Here I am.’” “Will not one knock soon?” asked the boy; and the mother smiled while she put elder-tree blossoms into the teapot and poured boiling water over them. “Pray, tell me a story.” “Yes, if stories came by themselves; they are so proud, they only come when they please.—But wait,” he said suddenly, “there is one. Look at the teapot; there is a story in it now.” And the little boy looked at the teapot; the lid rose up gradually, the elder-tree blossoms sprang forth one by one, fresh and white; long boughs came forth; even out of the spout they grew up in all directions, and formed a bush—nay, a large elder tree, which stretched its branches up to the bed and pushed the curtains aside; and there were so many blossoms and such a sweet fragrance! In the midst of the tree sat a kindly-looking old woman with a strange dress; it was as green as the leaves, and trimmed with large white blossoms, so that it was difficult to say whether it was real cloth, or the leaves and blossoms of the elder-tree. “What is this woman’s name?” asked the little boy. “Well, the Romans and Greeks used to call her a Dryad,” said the old man; “but we do not understand that. Out in the sailors’ quarter they give her a better name; there she is called elder-tree mother. Now, you must attentively listen to her and look at the beautiful elder-tree. “Just such a large tree, covered with flowers, stands out there; it grew in the corner of an humble little yard; under this tree sat two old people one afternoon in the beautiful sunshine. He was an old, old sailor, and she his old wife; they had already great-grandchildren, and were soon to celebrate their golden wedding, but they could not remember the date, and the elder-tree mother was sitting in the tree and looked as pleased as this one here. ‘I know very well when the golden wedding is to take place,’ she said; but they did not hear it—they were talking of bygone days. “‘Well, do you remember?’ said the old sailor, ‘when we were quite small and used to run about and play—it was in the very same yard where we now are—we used to put little branches into the ground and make a garden.’ “‘Yes,’ said the old woman, ‘I remember it very well; we used to water the branches, and one of them, an elder-tree branch, took root, and grew and became the large tree under which we are now sitting as old people.’ “‘Certainly, you are right,’ he said; ‘and in yonder corner stood a large water-tub; there I used to sail my boat, which I had cut out myself—it sailed so well; but soon I had to sail somewhere else.’ “‘But first we went to school to learn something,’ she said, ‘and then we were confirmed; we both wept on that day, but in the afternoon we went out hand in hand, and ascended the high round tower and looked out into the wide world right over Copenhagen and the sea; then we walked to Fredericksburg, where the king and the queen were sailing about in their magnificent boat on the canals.’ “‘But soon I had to sail about somewhere else, and for many years I was travelling about far away from home.’ “‘And I often cried about you, for I was afraid lest you were drowned and lying at the bottom of the sea. Many a time I got up in the night and looked if the weathercock had turned; it turned often, but you did not return. I remember one day distinctly: the rain was pouring down in torrents; the dust-man had come to the house where I was in service; I went down with the dust-bin and stood for a moment in the doorway, and looked at the dreadful weather. Then the postman gave me a letter; it was from you. Heavens! how that letter had travelled about. I tore it open and read it; I cried and laughed at the same time, and was so happy! Therein was written that you were staying in the hot countries, where the coffee grows. These must be marvellous countries. You said a great deal about them, and I read all while the rain was pouring down and I was standing there with the dust-bin. Then suddenly some one put his arm round my waist—’ “‘Yes, and you gave him a hearty smack on the cheek,’ said the old man. “‘I did not know that it was you—you had come as quickly as your letter; and you looked so handsome, and so you do still. You had a large yellow silk handkerchief in your pocket and a shining hat on. You looked so well, and the weather in the street was horrible!’ “‘Then we married,’ he said. ‘Do you remember how we got our first boy, and then Mary, Niels, Peter, John, and Christian?’ ‘Oh yes; and now they have all grown up, and have become useful members of society, whom everybody cares for.’ “‘And their children have had children again,’ said the old sailor. ‘Yes, these are children’s children, and they are strong and healthy. If I am not mistaken, our wedding took place at this season of the year.’ “‘Yes, to-day is your golden wedding-day,’ said the little elder-tree mother, stretching her head down between the two old people, who thought that she was their neighbour who was nodding to them; they looked at each other and clasped hands. Soon afterwards the children and grandchildren came, for they knew very well that it was the golden wedding-day; they had already wished them joy and happiness in the morning, but the old people had forgotten it, although they remembered things so well that had passed many, many years ago. The elder-tree smelt strongly, and the setting sun illuminated the faces of the two old people, so that they looked quite rosy; the youngest of the grandchildren danced round them, and cried merrily that there would be a feast in the evening, for they were to have hot potatoes; and the elder mother nodded in the tree and cried ‘Hooray’ with the others.” “But that was no fairy tale,” said the little boy who had listened to it. “You will presently understand it,” said the old man who told the story. “Let us ask little elder-tree mother about it.” “That was no fairy tale,” said the little elder-tree mother; “but now it comes! Real life furnishes us with subjects for the most wonderful fairy tales; for otherwise my beautiful elder-bush could not have grown forth out of the teapot.” And then she took the little boy out of bed and placed him on her bosom; the elder branches, full of blossoms, closed over them; it was as if they sat in a thick leafy bower which flew with them through the air; it was beautiful beyond all description. The little elder-tree mother had suddenly become a charming young girl, but her dress was still of the same green material, covered with white blossoms, as the elder-tree mother had worn; she had a real elder blossom elven-fairyon her bosom, and a wreath of the same flowers was wound round her curly golden hair; her eyes were so large and so blue that it was wonderful to look at them. She and the boy kissed each other, and then they were of the same age and felt the same joys. They walked hand in hand out of the bower, and now stood at home in a beautiful flower garden. Near the green lawn the father’s walking-stick was tied to a post. There was life in this stick for the little ones, for as soon as they seated themselves upon it the polished knob turned into a neighing horse’s head, a long black mane was fluttering in the wind, and four strong slender legs grew out. The animal was fiery and spirited; they galloped round the lawn. “Hooray! now we shall ride far away, many miles!” said the boy; “we shall ride to the nobleman’s estate where we were last year.” And they rode round the lawn again, and the little girl, who, as we know, was no other than the little elder-tree mother, continually cried, “Now we are in the country! Do you see the farmhouse there, with the large baking stove, which projects like a gigantic egg out of the wall into the road? The elder-tree spreads its branches over it, and the cock struts about and scratches for the hens. Look how proud he is! Now we are near the church; it stands on a high hill, under the spreading oak trees; one of them is half dead! Now we are at the smithy, where the fire roars and the half-naked men beat with their hammers so that the sparks fly far and wide. Let’s be off to the beautiful farm!” And they passed by everything the little girl, who was sitting behind on the stick, described, and the boy saw it, and yet they only went round the lawn. Then they played in a side-walk, and marked out a little garden on the ground; she took elder-blossoms out of her hair and planted them, and they grew exactly like those the old people planted when they were children, as we have heard before. They walked about hand in hand, just as the old couple had done when they were little, but they did not go to the round tower nor to the Fredericksburg garden. No; the little girl seized the boy round the waist, and then they flew far into the country. It was spring and it became summer, it was autumn and it became winter, and thousands of pictures reflected themselves in the boy’s eyes and heart, and the little girl always sang again, “You will never forget that!” And during their whole flight the elder-tree smelt so sweetly; he noticed the roses and the fresh beeches, but the elder-tree smelt much stronger, for the flowers were fixed on the little girl’s bosom, against which the boy often rested his head during the flight. “It is beautiful here in spring,” said the little girl, and they were again in the green beechwood, where the thyme breathed forth sweet fragrance at their feet, and the pink anemones looked lovely in the green moss. “Oh! that it were always spring in the fragrant beechwood!” “Here it is splendid in summer!” she said, and they passed by old castles of the age of chivalry. The high walls and indented battlements were reflected in the water of the ditches, on which swans were swimming and peering into the old shady avenues. The corn waved in the field like a yellow sea. Red and yellow flowers grew in the ditches, wild hops and convolvuli in full bloom in the hedges. In the evening the moon rose, large and round, and the hayricks in the meadows smelt sweetly. “One can never forget it!” “Here it is beautiful in autumn!” said the little girl, and the atmosphere seemed twice as high and blue, while the wood shone with crimson, green, and gold. The hounds were running off, flocks of wild fowl flew screaming over the barrows, while the bramble bushes twined round the old stones. The dark-blue sea was covered with white-sailed ships, and in the barns sat old women, girls, and children picking hops into a large tub; the young ones sang songs, and the old people told fairy tales about goblins and sorcerers. It could not be more pleasant anywhere. “Here it’s agreeable in winter!” said the little girl, and all the trees were covered with hoar-frost, so that they looked like white coral. The snow creaked under one’s feet, as if one had new boots on. One shooting star after another traversed the sky. In the room the Christmas tree was lit, and there were song and merriment. In the peasant’s cottage the violin sounded, and games were played for apple quarters; even the poorest child said, “It is beautiful in winter!” And indeed it was beautiful! And the little girl showed everything to the boy, and the elder-tree continued to breathe forth sweet perfume, while the red flag with the white cross was streaming in the wind; it was the flag under which the old sailor had served. The boy became a youth; he was to go out into the wide world, far away to the countries where the coffee grows. But at parting the little girl took an elder-blossom from her breast and gave it to him as a keepsake. He placed it in his prayer-book, and when he opened it in distant lands it was always at the place where the flower of remembrance was lying; and the more he looked at it the fresher it became, so that he could almost smell the fragrance of the woods at home. He distinctly saw the little girl, with her bright blue eyes, peeping out from behind the petals, and heard her whispering, “Here it is beautiful in spring, in summer, in autumn, and in winter,” and hundreds of pictures passed through his mind. Thus many years rolled by. He had now become an old man, and was sitting, with his old wife, under an elder-tree in full bloom. They held each other by the hand exactly as the great-grandfather and the great-grandmother had done outside, and, like them, they talked about bygone days and of their golden wedding. The little girl with the blue eyes and elder-blossoms in her hair was sitting high up in the tree, and nodded to them, saying, “To-day is the golden wedding!” And then she took two flowers out Fairy1of her wreath and kissed them. They glittered at first like silver, then like gold, and when she placed them on the heads of the old people each flower became a golden crown. There they both sat like a king and queen under the sweet-smelling tree, which looked exactly like an elder-tree, and he told his wife the story of the elder-tree mother as it had been told him when he was a little boy. They were both of opinion that the story contained many points like their own, and these similarities they liked best. “Yes, so it is,” said the little girl in the tree. “Some call me Little Elder-tree Mother; others a Dryad; but my real name is ‘Remembrance.’ It is I who sit in the tree which grows and grows. I can remember things and tell stories! But let’s see if you have still got your flower.” And the old man opened his prayer-book; the elder-blossom was still in it, and as fresh as if it had only just been put in. Remembrance nodded, and the two old people, with the golden crowns on their heads, sat in the glowing evening sun. They closed their eyes and—and— Well, now the story is ended! The little boy in bed did not know whether he had dreamt it or heard it told; the teapot stood on the table, but no elder-tree was growing out of it, and the old man who had told the story was on the point of leaving the room, and he did go out. “How beautiful it was!” said the little boy. “Mother, I have been to warm countries!” “I believe you,” said the mother; “if one takes two cups of hot elder-tea it is quite natural that one gets into warm countries!” And she covered him up well, so that he might not take cold. “You have slept soundly while I was arguing with the old man whether it was a story or a fairy tale!” “And what has become of the little elder-tree mother?” asked the boy. “She is in the teapot,” said the mother; “and there she may remain.”

(Adapted from: www.fairytalescollection.com)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 19, 2009 in A Page of My Fairy Tales

 

Graduation (Friends Forever) – Vitamin C

music treble clefAnd so we talked all night about the rest of our lives
Where we’re gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won’t be coming back
No more hanging out cause we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don’t have another day
Cause we’re moving on and we can’t slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn’t know much of love
But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
And we would get so excitedand we’d get so scared
Laughing at ourselves thinking life’s not fair
And this is how it feels

[Reff 1]
As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
From whatever
We will still be
Friends Forever

So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won’t interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly
And this is how it feels

As we go on
We remember
All the times we
Had together
And as our lives change
From whatever
We will still be
Friends Forever

La, la, la, la:
Yeah, yeah, yeah
La, la, la, la:
We will still be friends forever

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it’s like we’re women and men
Will the past be a shadow that will follow us ’round?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, keep thinking that it’s not goodbye
Keep on thinking it’s a time to fly

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 8, 2009 in A page of my music

 

e-Corporate Governance Disclosure and Firm Performance in Bearish Period: Evidence on Indonesian Capital Market

 

ABSTRACT

Many things which have been obstacles in the older days concerning the performance as well as the rating of corporate governance can be anticipated by exercising e-corporate governance disclosure. e-Corporate governance disclosure is assumed to have similar characteristics with the ‘former’ Corporate Governance. By optimizing the use of  e-corporate governance disclosure, a company is not only carrying out the principle of transparency as a tone with the good corporate governance practices, but it may also facilitate in increasing the image and stakeholders’ confidence toward the firm performance, whether in a normal condition or a Bearish period.   

            This research is aimed to investigate the influence of e-corporate governance disclosure towards stock return in Bearish period specifically on Indonesian Capital Market, as well as the effect of e-corporate governance disclosure towards firm value and performance. The research samples used are the companies within LQ45 based on certain criteria according to the Internet Based Corporate Governance (IBCG) Rating Index. This research used panel data regression model as the analysis tool to estimate the dependent variables. 

            The result of this research indicates that e-corporate governance disclosure has a negative and significant influence towards stock return in Bearish period on Indonesian Capital Market. Whereas e-corporate governance disclosure is found to have a positive influence towards firm value and performance.  

Keywords: e-Corporate Governance Disclosure, Bearish Period, Stock Return, Firm Value, Firm Performance, and Internet Based Corporate Governance (IBCG) Rating

Copyright @ UGM2009

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 3, 2009 in A Page of My Research